Duo Arsitek Paling Segar di Dunia
Arsitek asal Negeri Sakura menangi Pritzker Architecture Prize empat kali berturut-turut. Tahun ini adalah giliran bagi Kazuyo Sejima dan Ryue Nishizawa.
Maria Jeanindya
PRITZKER Architecture Prize masih terdengar asing di telinga. Jauh di bawah popularitas Piala Oscar. Namun, bagi arsitek-arsitek dunia, penganugerahan ini dianggap begitu prestisius. Bahkan setara dengan Nobel.Tahun ini piala tersebut jatuh ke tangan duo arsitek asal Jepang, yakni Kazuyo Sejima dan Ryue Nishizawa. Juri yang berjumlah tujuh orang dan berasal dari beragam profesi mengumumkan kemenangan mereka berdua, Minggu (28/3) malam.
Sejima, 54, dan Nishizawa, 44, menjadi arsitek termuda yang meraih penganugerahan tersebut. Sekaligus menjadi arsitek keempat asal Jepang yang berhasil memboyong pulang Piala Pritzker. Juri mendefinisikan rancangan mereka halus, berkarakter, dan cerdik. Walau tidak menampilkan sisi kepintaran keduanya secara gamblang.
"Karya Sejima-Nishizawa mampu mengeksplorasi ide-ide segar tentang pencahayaan dan transparansi bangunan. Ini seolah menghilangkan batas-batas konsep arsitektur kontemporer dan membawanya pada suatu ekstrem baru," puji Martha Thorne, Penanggung Jawab Utama Penganugerahan Pritzker.
Adapun publik mengenal keduanya sebagai arsitek yang berdisiplin tinggi dan senang memberi sentuhan detail ke dalam karya mereka. Permainan struktur untuk pencahayaan, transparansi serta eksplorasi material yang kaya sudah menjadi karakter keduanya. Desain Sejima dan Nishizawa tertuang pada bangunan Museum of Art Toledo dan New Museum of Contemporary Art Kota New York, AS. Kemiripan pada kedua bangunan antara lain imbuhan paviliun kaca yang sengaja disisipkan
Sejima-Nishizawa. Walau di awal pengerjaan Sejima-Nishizawa menuai banyak kritik, tak sedikit pula yang memberikan pujian setelah kedua museum rampung pada 2004 dan 2007. Sedikit bercerita tentang Chicago, AS, Sejima sempat mengungkapkan kekagumannya akan kota yang memiliki jumlah penduduk terbanyak ketiga di AS itu. "Chicago kota yang fantastis!" pujinya.
"Bangunan favorit saya dan Nishizawa di situ adalah kuil Ludwig Mies van der Rohe yang berbahan dasar baja dan kaca," ucap Sejima mengacu pada bangunan yang berlokasi di Crown Hall tersebut. Dari penganugerahan Pritzker, keduanya akan mendapatkan medali perunggu serta uang tunai sebesar US$100 ribu atau sekitar Rp900 juta. Adapun penyerahan resmi Pritzker Architecture Prize baru akan dihelat 17 Mei mendatang. Lokasi yang dipilih, yaitu sebuah situs bersejarah di Ellis Island, New York.
Kolaborasi apik Awalnya, Sejima dan Nishizawa adalah dua arsitek yang berkarya sendiri-sendiri. Pada 1995, keduanya bertemu lantas memutuskan untuk membangun perusahaan arsitektur berlabel SA-NAA, kependekan dari Sejima and Nishizawa and Associates.
Proyek bangunan yang mereka rancang cukup beraneka ragam. Tidak hanya merancang museum seni, Sejima-Nishizawa juga merancang butik untuk desainer kelas dunia seperti Christian Dior.
Selain itu, mereka pernah menuangkan karya mereka dalam sebuah bangunan sekolah, salah satunya Rolex Learning Center di Lausanne, Swiss, dan Sekolah Manajemen dan Desain Zollverein di
Essen, Jerman.
Meskipun hampir semua karya kedua arsitek ini mengundang decak kagum, mereka mengakui sering selisih paham. "Porsi dalam kolaborasi kami setara, tapi tetap saja kami berdua adalah manusia yang berbeda," jelas Nishizawa.
Belakangan, perbedaan pendapat dianggap sebagai hal biasa dan kewajaran oleh keduanya. "Bila itu terjadi, kami saling memberi waktu untuk rehat sejenak dan menjernihkan pikiran," ucap Sejima, perempuan yang mengaku tidak pernah membayangkan bakal menjadi arsitek.
Baik Sejima pun Nishizawa sama sekali tak menyangka akan memenangi ajang bergengsi di dunia arsitek itu. Mereka mengaku selama ini mereka sekadar mencoba menuangkan ide di bidang arsitektur dengan cara mereka sendiri.
"Kami tidak tahu mengapa para juri memilih kami. Mungkin para juri menghargai cara kami berkarya di tengah kayanya bidang arsitektur," tutur Sejima.
Pun demikian, keduanya tak cukup puas sampai di situ. "Kami hanya ingin membuat orang-orang betah dan menggunakan secara maksimal bangunan-bangunan yang kami rancang," tegas Sejima.
sumber :
http://bataviase.co.id/node/149978
Tidak ada komentar:
Posting Komentar