Di dalam masyarakat Indonesia, ada ungkapan bahwa 'rumah' merupakan kulit ketiga dari manusia, dimana yang menjadi kulit kedua adalah pakaian/busana, sedangkan kulit pertama adalah kulit tubuh manusia itu sendiri. Ungkapan lain menyebutkan bahwa 'rumahmu adalah wajahmu dan jiwamu'. Bahkan Y.B. Mangunwijaya, yakni salah seorang arsitek, budayawan sekaligus Romo melalui bukunya yang berjudul: 'Vastu Citra', menulis bahwa ternyata bangunan punya citra sendiri-sendiri dalam perwatakan mental dan jiwa seperti apa yang dimiliki oleh pembuatnya. Semakin kita berkembang dalam pembangunan, maka semakin mendesak pula kita harus memperhatikan segi citra itu. Demikian juga halnya dalam dunia seni pembangunan rumah, jangan sampai bangsa kita dicap punya keaslian dan keterampilan juga punya duit dan sarana, tetapi jiwanya 'kosong dan ngawur'. Itu tampak dari penampilannya, dari citranya. Sebab 'citra' penting dalam tata pergaulan, baik secara pribadi maupun secara nasional dalam tata pergaulan antar bangsa. Demikian sebagian ungkapan dari Romo Mangunwijaya yang saya kutip.
Rumah warga desa umumnya berkelompok dalam teritorial kekerabatan. Toleransi ruang juga terpelihara sangat kuat. Di desa-desa wilayah selatan Gunung Kidul, misalnya, sebagian warga merelakan tanah pribadinya untuk pembangunan bak penampungan air hujan umum.
Seperti terlihat pada Senin (1/6), lokasi bak penampungan air hujan umum itu selalu ramai dikunjungi warga. Selain mengisi jeriken air, mereka juga duduk-duduk sembari mengobrol tentang apa saja. Ruang milik pribadi di pedesaan bisa berfungsi sebagai pusat kegiatan komunitas.
Kuatnya persepsi ruang sebagai fungsi sosial ini sudah mulai jarang dijumpai di wilayah perkotaan. Warga kota cenderung mengikuti konsep individual serta mengartikan ruang sebagai fungsi ekonomi. “Bentuk bangunan sangat berpengaruh pada tata sosial. Budaya masyarakat berubah ketika tata ruang berubah,” ungkap Sudaryono.
Seiring perkembangan zaman, pergeseran ruang memang mulai terjadi di pedesaan. Perubahan tersebut terutama karena warga mulai memeroleh referensi konsep pembangunan dari daerah lain. Selain itu, peningkatan status sosial ekonomi juga terefleksi pada perubahan bentuk bangunan.
Menurut Sudaryono, pemerintah harus berhati-hati dalam menggarap pembangunan di wilayah pedesaan. Jangan sampai pembangunan tersebut tidak mempertimbangkan prinsip kolektivitas warga. “Yang terjadi saat ini bukan pembangunan untuk masyarakat, tetapi pembangunan di tengah masyarakat,” jelasnya.
Rumah warga di pedesaan cenderung mempertahankan sistem nilai budaya Jawa. Bentuk pola atap rumah yang pendek mendorong para tamu untuk menunduk sebelum memasuki rumah sebagai tanda penghormatan. Mayoritas rumah juga masih menghadap ke selatan sesuai orientasi mitologi Jawa pada kehadiran penguasa Laut Selatan.
GUNUNG KIDUL, KOMPAS.com
jadi, sekarang rumah tidak hanya sebagai tempat kita berlindung dari cuaca dan segala gangguan dari luar tapi juga sebagai jati diri di lingkungan sosial masyarakat.
